Minggu, 08 Juni 2014

Koalisi Diantara Nasionalisme Dan Globalisme

Pemilu legislatif telah berakhir dan telah diketahui pula perolehan suara dari tiap-tiap partai politik (parpol) peserta pemilu tahun 2014. Kini semua parpol mengarahkan pandangan mereka pada pemilu presiden. Beberapa parpol yang telah mengproklamirkan wakilnya untuk menjadi capres dan cawaprespun harus bergigit jari karena suara yang diperoleh tidak mencukupi untuk bisa langsung mengusung calonnya tersebut sehingga mereka harus mencari solusi lain agar parpol mereka tetap bisa masuk kedalam pemerintahan dengan cara melakukan koalisi.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) koalisi politik adalah kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen (dalam hal ini untuk mencapai standar suara yang harus ada untuk mengusulkan wakilnya sebagai pasangan capres dan cawapres).
Partai dengan perolehan suara yang cukup besar dan memiliki calon yang kuat bebondong-bondong dihampiri para parpol dengan suara  perolehan dibawahnya. Meminang dan dipinangpun menjadi istilah yang ramai digunakan di media-media. Pilih kawan dan lawan dilakukan hanya untuk menjadikan parpol mereka bisa masuk dalam sistem pemerintahan. Setelah mereka selaras dengan visi dan misinya strategi pemenangan dilakukan dari sebuah pencitraan, meminta dukungan dari ulama dan pihak netral hingga melakukan kampanye hitam (walaupun simpatisan mereka yang melakukan). Apakah semua itu yang di inginkan rakyat Indonesia untuk mendapatkan pemimpin?, atau bentuk koalisme nasionalisme seperti apa? agar dapat menghadang laju globalisasi agar masyarakat Indonesia tidak tumbuh terbelenggu dalam masalah tersebut
Masyarakat Indonesia sekarang ini telah pintar untuk menentukan pemimpinnya kelak karena kenangan masa lalu yang membuat kita tidak bisa berbuat banyak di negeri sendiri dengan berjuta potensi yang dimilikinya. Menurut saya pribadi koalisme diantara nasionalisme dan globalisasi maksudnya adalah sebuah koalisi antara partai ataupun orang-orang yang mengerti akan keadaaan negara ini, situasi negara ini dan problem negara ini bersatu untuk membuat sebuah pemerintahan untuk mementingkan masyarakat, mengelola sumber daya alam yang ada di negara ini oleh masyarakatnya dengan menasionalisasikan perusahaan asing yang mengelola sumber daya alam Indonesia dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada tiap daerah tanpa ada campur tangannya dari pihak asing maupun pihak lainnya yang memiliki kepentingan, kekuasaan, uang dan lainnya untuk memperkaya diri mereka sendiri bukan untuk bangsa dan negara ini. Pada akhirnya kolisi yang mementingkan nasionalisme tersebut akan bisa menghadapi era globalisasi yang semakin kuat ini supaya masyarakat Indonesia bisa ikut menjadi pemain yang bisa bersama-sama menaklukan dunia bukan menjadi penonton yang hanya melihat kekayaan ibu pertiwi habis dikeruk oleh bangsa lain.
Sebelum terlambat dan menyesal nantinya, kita semua harus cemat dan mengetahui latar belakang, visi dan misi para capres-cawapres yang akan bertarung pada pemilu presiden nanti, siapa yang akan memihak pada bangsa ini dengan sepenuh hati untuk memajukan Indonesia atau hanya sebuah harapan yang bisa beliau berikan tanpa ada realisasi untuk kemajuan bangsa.







Sumber

Pedofilia Dan Solusi menghilangkan Pedofilia

Pengertian Pedofilia
Menurut diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.
Menurut diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.
Pedofilia adalah perbuatan seks yang tidak wajar dimana terdapat dorongan yang kuat beulang-ulang berupa hubungan kelamin dengan anak pra-pubertas atau kesuakaan  abnormal terhadap anak, aktivitas seks terhadap anak-anak (Dorlan. 1998).
Berdasarkan DSM-IV, seseorang dikatakan sebagai penderita pedofilia bila :
A.  Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secaraseksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa aktivitas seksualdengan anak pre-pubertas atau anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang).
B.  Khayalan, dorongan seksual atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermaknasecara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
C. Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua darianak-anak yang menjadi korban.

Solusi menghilangkan Pedofilia :
·         Memberikan education sex kepada anak agar mengetahui bahaya dari pedofila
·         Mengawasi dan mengontrol anak-anak bagi orang tua
·         Membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak
·         Memberikan terapi penyembuhan bagi pelaku pedofilia maupun korban
·         Memberikan hukuman kepada pelaku pedofilia sesuai dengan perbuatannya menurut hokum yang berlaku





Sumber :

Sabtu, 26 April 2014

Tanggapan Dan Solusi Yang Baik Untuk Mengatasi Lokalisasi

            Membicarakan mengenai tempat lokalisasi sangatlah sensitif dan kompleks, banyak masalah yang timbul dari persoalan tersebut dan hingga sekarang masih sulit menemukan solusi yang tepat dari masalah tersebut. Menurut saya lokalisasi tidak seharusnya ada karena tidak sesuai dengan ajaran agama dan akan menghancurkan moral bangsa. Selain itu salah satu masalah yang timbul karena adanya lokalisasi adalah menimbulkan masalah kesehatan seperti penyakit kelamin, terjangkitnya virus HIV/AIDS dan berbagai macam penyakit lainnya yang berbahaya bagi kesehatan. Tindakan kriminalitas pun akan meningkat seiring persaingan diantara sesama preman yang melindungi pekerja seks komersial (psk).
            Masalah munculnya lokalisasi karena faktor ekonomi yang mendesak mereka para pekerjanya untuk melakukan hal tersebut. Peran pemerintah dalam menyediakan lahan pekerjaaan kurang memadai dan tidak ada inisiatif dari masyarakat itu sendiri untuk membuka lahan kerja sendiri atau membuat industri kreatif.
            Sikap pemerintah dalam menindak adanya tempat lokalisasi yang muncul baik yang sembunyi-sembunyi maupun yang sudah jelas keberadannya masih sangat kurang dan peran masyarakat masih kurang dalam menyikapi adanya tempat lokalisasi. Jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya peran dan pengawasan dari berbagai pihak untuk menyelesaikannya dengan solusi terbaik tanpa ada yang dirugikan, maka masalah ini akan terus ada dan moral bangsa akan semakin hancur.

Solusi yang dapat saya berikan adalah :
1.      Menutup tempat lokalisasi
2.      Memberi pembinaan keterampilan atau pekerjaan yang layak bagi para pekerja lokalisasi tersebut
3.      Tingkatkan pengamanan dan pengawasan di masyarakat untuk mencegah munculnya kembali tempat-tempat lokalisasi lainnya
4.      Memberi penyuluhan seks serta bahayanya seks bebas
5.      Memberikan pendidikan moral bagi masyarakat
            Tanpa adanya peran aktif dan pengawasan yang ketat untuk memperbaiki ini semua, solusi yang disarankan menurut saya dan beberapa pihak lainnya hanya akan menjadi kata-kata biasa yang tak berarti sehingga lambat laun akan semakin merusak moral bangsa ini.


Rencana Jika Saya Menjadi Seorang Calon Legislatif (Caleg)


             Menjadi calon anggota legislatif (caleg) tentunya harus memiliki visi misi untuk memajukan indonesia pada umumnya, terutama memajukan daerah pemilihannya. Berikut ini rencana saya jika menjadi seorang calon anggota legislatif :
1.      Memperbanyak lapangan pekerjaan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dari daerah yang saya wakili
2.      Membangun fasilitas umum yang belum ada di daerah tersebut seperti membangun akses jalan untuk mempermudah kelangsungan perekonomian masyarakat setempat terutama ketempat-tempat potensi yang dikembangkan
3.      Mempermudah pelayanan publik terutama untuk masyarakat yang kurang mampu
4.      Menjaga dan melestarikan kesenian lokal yang ada
5.      Memberi pelatihan kerja dan membantu kaum muda putus sekolah untuk mengembangkan kreativitas dan memberikan lapangan pekerjaan melalui aspirasi
6.      Menampung dan memperjuangkan serta menyalurkan aspirasi dalam segala bidang kelembagaan


Menafsirkan Lagu Pop Yang Menggambarkan Indonesia

Kebyar Kebyar - Gombloh

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Debar jantungku, getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga ...

Indonesia ...
Nada laguku, simphoni perteguh
Selaras dengan simphonimu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga ...

Biarpun bumi bergoncang
Kau tetap Indonesiaku
Andaikan matahari terbit dari barat
Kaupun Indonesiaku
Tak sebilah pedang yang tajam
Dapat palingkan daku darimu

Kusingsingkan lengan
Rawe-rawe rantas
Malang-malang tuntas
Denganmu ...

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Getar jantungku, getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga ...

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu

kebyar kebyar pelangi jingga

            Menurut saya setelah mendengarkan dan memahami lagu kebyar-kebyar yang dinyanyikan oleh musisi Gombloh lagu ini memiliki pesan moral yang sangat bagus, liriknya yang sederhana namun memiliki makna yang sangat nasionalis dan membangkitkan rasa cinta terhadap tanah air. Meskipun terjadi sesuatu pada negeri ini tidak akan merubah rasa cinta tanah air sedikitpun karena rasa cinta tanah air telah merasuki tiap aliran darah dan denyut nadi seperti yang terdapat pada lirik lagunya. Musiknya pun dibuat dengan nada-nada yang menghentakkan jiwa.

            Lagu ini sangat cocok untuk didengarkan oleh anak muda zaman sekarang yang telah mulai pudar rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap negara kita sendri. Agar rasa nasionalisme tumbuh didiri mereka sehingga pada akhirnya kalangan muda yang tumbuh dengan semangat nasionalisme dapat menjaga keutuhan negara dan memajukannya.

sumber :
http://www.allthelyrics.com/lyrics/gombloh/kebyar_kebyar-lyrics-1210912.html

Sabtu, 29 Maret 2014

DESKRIPSI BUNGA LAMBANG SATU PROVINSI

Bunga Pada Lambang Provinsi Sumatera Selatan



            Lambang Sumatera Selatan berbentuk perisai bersudut lima. Di dalamnya terdapat lukisan bunga teratai, batang hari sembilan, jembatan Ampera, dan gunung serta di atasnya terdapat atap rumah khas Sumatera Selatan. Tertulis semboyan "Bersatu Teguh" pada bagian tengah bawah perisai.
            Bunga teratai berkelopak lima berarti keberanian dan keadilan berdasarkan Pancasila. Selain itu bunga padma atau teratai adalah bunga suci dalam agama Buddha yang melambangkan Kemaharajaan Sriwijaya sebagai bukti sejarah kegemilangan masa lalu Sumatera Selatan. Batang hari sembilan adalah nama lain provinsi Sumatera Selatan yang memiliki sembilan sungai. Jembatan Ampera merupakan ciri yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Gunung memiliki makna daerah pegunungan yang banyak terdapat di Sumatera Selatan. Sedangkan atap khas Sumatera Selatan yang berujung 17 dan 8 garis genting dan 45 buah genting merupakan simbol kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sumber :


Jumat, 28 Maret 2014

DESKRIPSI TOKOH WAYANG INDONESIA

BIMA
(Tokoh Mahabharata Dalam Budaya Pewayangan Jawa Diambil Dan Diadaptasi Dari Mitologi Hindu Di India)



            Bima (Sanskerta: Bhima) atau Bimasena (Sanskerta: Bhimaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se’ayah’-nya ialah wanara yang terkenal dalam epos Ramayana dan sering dipanggil dengan nama Hanoman. Akhir dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuddha. Cerita ini dikisahkan dalam episode atau lakon Prasthanikaparwa. Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

Arti Nama
            Bima-Wayang-JawaKata bhima dalam bahasa Sanskerta artinya kurang lebih adalah “mengerikan”. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, dalam bahasa Sanskerta dieja v?(ri)kodara, artinya ialah “perut serigala”, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.
Kelahiran
            Dalam wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa karena Pandu tidak dapat membuat keturunan (akibat kutukan dari seorang resi di hutan), maka Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.

Masa Muda
            Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya di antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili para sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima.
            Pada suatu hari ketika para Korawa serta Pandawa pergi bertamasya di daerah sungai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Ajaibnya, bisa ular tersebut berubah menjadi penangkal bagi racun yang dimakan Bima. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.
            Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para Pandawa menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.
Pendidikan
            Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang militer oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi murid Baladewa, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana juga setia kepada Baladewa.

Sifat
            Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.
            Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

Peristiwa di Waranawata
            Ketika para Bima beserta ibu dan saudara-saudaranya berlibur di Waranawata, ia dan Yudistira sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, telah membangun rumah tersebut sedemikian rupa dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.
            Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya.
            Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.


Peristiwa di Hidimbawana
            Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi/arimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Dari perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Pembunuh Raksasa Baka
            Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keempat Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya seluruh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluarganya. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti berkata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju.
            Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel dengannya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali. Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana.

Bima dalam Bharatayuddha
                Dalam perang di Kurukshetra, Bima berperan sebagai komandan tentara Pandawa. Ia berperang dengan menggunakan senjata gadanya yang sangat mengerikan.
            Pada hari terakhir Bharatayuddha, Bima berkelahi melawan Duryodana dengan menggunakan senjata gada. Pertarungan berlangsung dengan sengit dan lama, sampai akhirnya Kresna mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha Duryodana. Seketika Bima mengayunkan gadanya ke arah paha Duryodana. Setelah pahanya diremukkan, Duryodana jatuh ke tanah, dan beberapa lama kemudian ia mati.

Bima dalam pewayangan Jawa
            Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima.

Istri dan keturunan
            Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu:
1.      Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja,
2.      Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan
3.      Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena.
Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini.
Nama lain
1.      Bratasena
2.      Balawa
3.      Birawa
4.      Dandungwacana
5.      Nagata
6.      Kusumayuda
7.      Kowara
8.      Kusumadilaga
9.      Pandusiwi
10.  Bayusuta
11.  Sena
12.  Wijasena
13.  Jagal Abilowo



Sumber :